Menjadi Terdakwa

Published December 24, 2013 by natayacr

Menempuh jalan berputar.

Mencoba ke berbagai penjuru.

Berharap inilah jalan keluar.

Tak perlu membuang waktu.

Akhirnya kami menyerah.

Membawa diri kami sebagai terdakwa.

Hati pasrah

Lisan tak putus berdoa.

IMG-20130622-WA0000-1mtf_vZgiC_664

Menjadi ibu untuk kedua kalinya, rasanya tetap ajaib. Tidak mengikuti law of diminishing marginal utility. Tidak ada penurunan kepuasan. Meski sudah punya pengalaman dari anak pertama, tetap saja ada sesuatu yang baru dan unik. Aku lebih tenang menghadapi persalinan kedua. Babyblues setelah persalinan hampir nol. Waktu lebih tertata. Tidak lagi buru-buru makan. Juga tidak perlu ngebut ketika membersihkan badan.Ya iyalah..kan sudah berpengalaman.

Sesudah melewati pelajaran growth spurt, semoga tak ada masalah berarti dengan Narissa, putri mungilku yang kedua. Narissa bayi yang ramah, senyum dan tawa berlimpah. Menyapa orang baru dengan babbling-nya, memberi salam dengan menggerak-gerakan kakinya. Indikator kesehatan sebagai bayi pun tak masalah, tetap berada pada zona tengah.

Narissa pun memasuki masa MPASI nya. Aku bersemangat memberinya makanan pendamping. Buku menu makanan bayi dibuka kembali. Bubur susu hanya masuk dua sendok. Narissa tidak terlalu suka. Baiklah, mari kita coba yang lain, Nak. Bubur bayi instan dicobakan. Nampaknya Narissa lebih suka. Selanjutnya biskuit bayi, dihabiskan sekeping setiap makan. Pola makan yang aku terapkan tak jauh beda dengan Maisha dulu.

Lalu keceriaan Narissa menghilang perlahan. Narissa menjadi lebih sering menangis. Tangisnya terdengar sebelah menyebelah kiri kanan, depan belakang. Dalam 3 bulan Narissa tak kunjung naik berat badan. Ketika bulan pertama Narissa tidak naik berat badan aku bertanya kepada dokter.

“Kok berat badan anak saya tidak naik ya, Dokter?”

Sang dokter agak terkaget dan segera melihat catatan di kertas medical record.

“Coba ditimbang di tempat yang lain, Bu. Kadang-kadang karena masalah kalibrasi timbangan.”

Bulan kedua Narissa tidak naik berat badan, kembali pertanyaan yang sama aku lontarkan.

“Coba ditimbang di tempat yang lain, Bu.”

“Tapi bulan lalu juga seperti ini, Dokter. Dan Narissa sudah 7 hari nggak BAB.”

“Kalau begitu harus diberi micro***.”

Cairan yang harus dimasukkan ke dalam rectum Narissa untuk melumaskan  feses dan melumasi saluran pembuangan. Sempat bingung dan gundah, apakah akan tetap diberikan pada Narissa. Tapi dokter merekomendasikannya. Dan Narissa terus mengalami masalah dengan BAB nya. Hampir menangis sepanjang hari, dan kembali micro*** diberikan. Meninggalkan Narissa untuk keluar rumah, hampir tidak mungkin.

Kami lalu berpikir mungkin tangis tanpa henti Narissa karena kista di atas ginjalnya yang terindikasi sejak 26 minggu usia kehamilanku. Besarnya sekitar 2.4 cm dan terus membesar hingga ukuran hampir 4 cm saat Narissa dilahirkan. Alhamdulillah setelah usia Narissa 7 bulan, kistanya hilang total. Kami beralih mencari penyebab yang lain. Dari RSCM, kami lalu ke Rumah Sakit di daerah Cinere, bertemu seorang dokter perempuan yang direkomendasikan oleh seorang teman.

Dengan rasa putus asa aku memasuki ruang dokter.

“Nataya, MPASI Narissa ini berantakan!” Suara tegas dokter mengoyak hatiku.

“Saya memberinya pure, bubur beras dicampur sayur-sayuran.”

“Lalu proteinnya apa?”

“Saya beri kaldu ayam, daging dan ikan.”

“Baguuus, lalu dagingnya yang makan Emak dan Bapaknya?”

Aku terdiam kebingungan. Lho bukankah daging, ikan dan ayam setalh 9 bulan usia bayi.

Belum selesai kebingunganku, dokter kembali bertanya.

“Makanannya tanpa gula garam kan?”

Aku mengangguk-angguk.

“Nah, ini lagi. Kebanyakan baca tulisan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Berdasarkan petunjuk dari WHO, pemakaian gula dan garam sedikit tidak apa-apa. Untuk rasa untuk bayinya. Bumbu juga diperbolehkan. Ketika rasa ASI ibunya berbagai rasa, dia akan tak bersemangat dengan MPASI yang anyep.”

“Saya marahin Nataya ya.”

“Tidak apa-apa, Dokter. Marah saja pada saya.”

Aku memang sudah siap menjadi terdakwa dihadapannya.

“Berikan makanan lengkap, hanya bentuk dan teksturnya yang berbeda. Kasih ikan, kasih daging, kasih ayam dalam bentuk halus. Nanti berat badan anaknya akan meningkat.”

“Anak saya sembelit, Dokter. Sampai mengejan dengan gemetaran. Saya tak berani memberikan makanan macam-macam.”

“Itu karena protein hewani yang tidak ada. Rasulullah juga mencontohkan untuk tetap memakan protein hewani. Tidak usah kasih ikan salmon. Nanti suaminya bangkrut. Kasih ikan lele atau patin yang kandungan omega 3 nya sama. Saya banyak bertemu dengan orang WHO dan mereka berkomentar, there are so many rich people in your country who can buy good food for their children, but they don’t do that. And so many poor people who want to buy that food, but they can not do that.”

Hanya dapat terdiam, tanpa kata.

“ Berikan ASI hingga dua tahun. Setelah ini, saya kirim Nataya ke klinik laktasi, untuk tahu bagaimana membuat MPASI yang benar.”

Pengalaman yang sungguh baru untukku. Ketika Maisha, aku tidak memperkenalkan gula dan garam terlalu dini. Juga tidak memberikan protein hewani tak lama setelah MPASI. Telur baru aku berikan setelah 1 tahun. Ikan sempat aku hentikan, karena Maisha pernah terkena disentri. Bertolak belakang dengan apa yang harus aku lakukan pada Narissa.

Alhamdulillah, setelah mendapatkan MPASI yang benar, berat badan Narissa meningkat pesat. Masalah sembelitnya pun berkurang. Narissa lebih ceria. Tak lagi hipotonik. Gigi pun tumbuh lebih cepat dari Maisha. Juga kemampuan motoriknya.

Harus mengakui diri, aku adalah Ibu yang……………….

Advertisements

Terlanda Cemburu

Published April 19, 2013 by natayacr

Akan ada anggota baru di keluarga kami. Seorang bayi. Perempuan katanya. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku. Abstrak rasanya. Dia belum benar-benar hadir. Masih berlindung di lapisan kulit, di dalam rahim.

Aura gembira tumpah di keluarga besar kami. Katanya dia sudah hadir. Sudah lahir. Tapi kembali aku tidak bisa mendefinisikan perasaanku. Rasanya aku harus gembira. Makhluk mungil itu begitu lucu meski ribut dengan tangisnya.

Benar, dia begitu mungil. Lucu dan menggemaskan. Aroma wangi yang menyeruak dari setiap kujur tubuhnya. Kenapa aku harus bingung untuk tidak bergembira ? Bibirnya mungil kadang terbuka, mempertontonkan gusi yang belum bergigi. Benar-benar menggemaskan. Tangannya kecil, berjari-jari mungil. Uuuuuuh, luar biasa menggemaskan. Aku coba memegang tangannya. Halus. Bayi mungil itu mengenggam jemariku. Rasanya aku mulai jatuh cinta. Kudekatkan jemarinya ke hidungku, luar biasa wangi sekali. Kukecup jemarinya, hmmmm terasa lembut. Aku ingin menggigit mesra jemari itu, merasakan sensasi lunaknya buku-buku tulang rawan.

“Maisha….”. Aaaaaaaggh, suara Ummi memecah konsentrasiku. Rupanya Ummi melihat aksiku.

“Gemassss”. Hanya itu yang bisa aku katakan pada Ummi.

Kata orang-orang namanya Narissa. Dia adikku. Dede bayi yang sering aku cium sewaktu di perut Ummi. Aku tahu nama lengkapnya, tapi masih susah untukku melafalkannya. Biarlah aku panggil dia ‘Lica’. Semoga Narissa tidak marah akan artikulasiku.

Lica harus sering digendong Ummi. Sebentar-sebentar harus disusui. Padahal aku kangen sama Ummi. Aku ingin dipeluk lagi. Yang lama, hingga aku tertidur. Aku ingin bercanda lagi, pillow talk tak berbatas waktu. Tapi itu tidak mungkin lagi. Aku harus berbagi. Sementara, biarlah tepukan Abi atau Nenek yang mengantar tidurku. Tapi aku kangen Ummi.

Ummi mendatangiku pada suatu saat menjelang tidurku. Lica sudah tertidur lebih dahulu. Pandangannya yang penuh kasih sangat aku rindukan hingga ke sendi-sendi tubuhku. Tangannya yang terentang segera aku sambut hangat. Hampir terbata aku mengucap.

“Ummi.” Hanya suara lirih yang dapat keluar. Aku begitu bahagia. Aku melihat Ummi juga berkaca-kaca.

“Ummi kangen, Nak. Kangen sekali sama Maisha.” Akhirnya aku kembali dapat berpelukan dengan Ummi. Hidung kami kembali bersentuhan.

Kembali aku tak tahu bagaimana perasaanku. Aku merasa hati Ummi terbagi. Aku harus  menunggu untuk mendapatkan waktunya.

“Sebentar, ya cantik. Ummi mau menyusui Dede dulu ya.” Itu saja yang Ummi ucapkan berulang-ulang. Aku mau Ummi yang mengguyurku saat mandi, menyisiriku, menyuapiku. Kenapa semua harus berubah dengan kehadiran anak kecil itu. Aku mulai terlanda  cemburu.

Ummi, peluk aku. Badanku hangat. Sepertinya aku mulai demam. Tapi Ummi punya waktu yang terbatas untukku. Katanya Lica juga demam. Lihat aku Ummi, pipiku memerah, bibirku memerah. Menahan panas yang keluar dari sel-sel tubuhku. Peluk aku Ummi. Seperti dulu engkau memelukku. Tak berbatas waktu. Lidahku terasa pahit. Semua makanan terasa tak enak. Aku tak ingin minum obat. Sangat terasa tak enak.

“Minum obat, ya Nak, cantiknya Ummi.”

“Nggak mau!” Aku menolak. Dengarlah mauku Ummi.

“Biar cepat sembuh, cinta.”

“Nggak mau!”Tidak dengarkah Ummi perkataanku. Kenapa harus memaksaku.

Dan aku marah. Semarah-marahnya. Aku marah ketika Ummi dan Auntie bekerjasama memencet hidungku dan memasukkan sesendok obat dengan paksa. Aku sangat marah. Kemarahan yang meluap hingga menyedot semua isi perutku. Tertumpah. Muntah. Badanku sakit, tapi hatiku sangat sakit. Ummi adalah orang yang tak mau aku lihat. Begitu dia membuka pintu kamar aku berteriak meraung. Aku tak ingin Ummi di sisiku. Hanya Nenek teman baikku. Hanya Nenek. Perempuan penuh kasih yang tak memaksaku. Abi sedang berada jauh, hanya bisa meneleponku.

Ummi mencoba mendekatiku. Tapi hatiku masih terasa sakit. Aku berteriak menolaknya.

“Ummi mau peluk Maisha, Nak.”

“Nggak mau! Nggak mau!” raungku. Lalu aku lihat air mata itu. Ummi menangis. Aku juga menangis.

“Maafkan Ummi, Nak.” Suara Ummi terdengar sangat sedih.

Rasa marahku akhirnya reda, ketika sakitku juga reda. Aku mulai melupakan kemarahanku pada Ummi. Semburat bahagia tampak jelas di wajahnya. Tapi ada dia di tengah kita. Lica yang selalu mengambil waktuku bersama Ummi.

Aku cemburu. Pada Lica yang belum bisa apa-apa, tapi mendapatkan semua. Box dan kelambu bayi, itu dulu kepunyaanku. Dia tak boleh tidur di situ. Lica belum bisa apa-apa, jadi biarlah aku yang memakai playmate hadiah untuknya. Lica belum bisa apa-apa, tidak menjawab apa-apa, jadi biarlah aku berteriak memanggil nama di telinganya. Lica belum bisa apa-apa, jadi biarlah kutanduk kepalanya agar dia bereaksi pada kehadiranku, yang adalah kakaknya. Terbukti, dia bereaksi, menangis dengan kencangnya. Jadi begitulah cara menegur sapanya.

Aku mau seperti Lica, mendapat limpahan perhatian. Aku harus seperti Lica. Maka kucobakan berbicara dengan bahasa bayi.

“Ta..ta..ta..ma..ma..ma”

“Maisha ngomong apa, Nak, kok seperti bayi.” Ummi tidak mengerti.

Aku harus seperti Lica. Maka kucobakan berpura-pura menangis seperti bayi.

“Oek..oek..oek.” Aku berbaring sambil menggerak-gerakkan kaki.

Aku harus seperti Lica. Maka kucobakan kaos kakinya yang mungil, yang terhenti masuk pada separuh jari kakiku.

Aku harus mendapat perhatian seperti Lica. Maka aku kucobakan untuk pura-pura terjatuh.

“Tolong..Ummi tolong. Maisha jatuh.”

Cemburu ini begitu timbul tenggelam. Tenggelam saat perasaan cintaku tak tertutupi untuknya. Tak dapat kutahan keinginan untuk memeluknya, mencium pipinya. Sepertinya Lica juga mencintaiku. Matanya mencari-cari saat mendengar suaraku. Dia tertawa saat aku menggodanya.

Aku masih belajar untuk mengatasi perasaanku, saat terlanda cemburu. Tapi itu tak lantas membuatku tak mencintaimu, Licaku.

Segera terekam dalam memori puisi yang diwariskan Ummi untukku.

ImageImageImage

.

Insan Penebar Manfaat

Published April 11, 2013 by natayacr

ImageImage

“Nataya, apakah kamu baik-baik saja? Os bermimpi tiba-tiba mati lampu, dan kamu memegang tangan Os.”

Bahkan dia lebih dulu merasa dibandingkan diriku sendiri akan ada cobaan besar dalam hidupku.

Os adalah singkatan dari Om Syafril. Om yang tinggal di rumah kami, sejak aku SD. Di luar keluarga kami dia terkenal sebagai STN, singkatan namanya Syafril Teha Noer. Pelatih teater jebolan Bengkel Teater Rendra yang menyaksikan perjalanan hidup keluarga kami. Dia sudah menjadi bagian dari keluarga kami.

“Alasaaaaaan!!” Itu jawaban teriaknya ketika aku meminta ijin untuk tidak mengikuti latihan kelompok teater anak-anak Rumpun Pisang. Padahal latihan itu di rumahku, aku anak pemilik rumah. Dan dia tetap marah kepadaku. Di depan teman-teman yang lain. Aku tidak mendapatkan keistimewaan. Dia sudah menakar, bahwa kemalasan untuk mangkir dari latihan harus diberantas dan tidak menular pada anak-anak yang lain.

Latihan teater yang diberikannya bukan hanya sekedar latihan instan ber-acting sok teater atau berbicara dengan suara dalam yang dibuat-buat. Latihan teater bukan hanya sekedar untuk keperluan tampil di depan TV atau panggung. Kami harus membersihkan tempat latihan. Menyapu dan membersihkan dedaunan. Setelah itu barulah kami ‘prep’ (preparation), latihan vocal, dialog dan blocking.

“Coba dengarkan, apa saja yang kalian dengar dalam keadaan terpejam?”

Kelak baru aku sadari bahwa latihan itu jugalah yang aku dapatkan dalam yogaku. Mengasah sensitivitas perasaan.

Hubunganku, kakak dan adikku  dengan Os tentu lebih istimewa. Kami selalu menantikan waktu bermain dengannya. Os memperlakukan kami seperti teman. Karena sangat nyaman ‘berteman’ dengannya, kami selalu rajin mengetuk pintu kamarnya. Bahkan menantikannya terjaga dari tidur malamnya yang selalu terlambat karena menyelesaikan naskah atau tulisan.

“Om…Om…boleh main kah?”

Setia kami menanti pintu kamar dibuka .

Kami selalu menantikan cerita tentang keseruan bersekolah di Muallimin Jogja. Cerita yang sebagian ditulis dalam buku ‘Rimba Kaban’. Buku yang luar biasa tak kalah dari buku Negeri  5 Menara,.Kami serasa mengenal teman-teman dan gurunya. Kami juga selalu menantikan cerita tentang keluarga dan kehidupan di bengkel teater. Os juga bercerita tentang pacar-pacarnya. Ya, kami yang anak-anak ini, diajak komunikasi seperti orang dewasa. Tapi dengan itulah kami merasa dihargai dan dianggap sederajat. Akomodasi untuk sifat anak-anak yang segera ingin seperti orang besar.

Os mengajarkan kami disiplin.

“Sudah terlambat.”

Aku terlambat berbelas menit untuk belajar mengaji, karena menonton Si Unyil.

Os mengajarkan kami artinya kerja keras.

“Nataya, ingat kamu harus berlatih mengucapkan huruf ‘r’ tiga kali lipat. Mengerti tiga kali lipat?”

Dan aku dirumahkan, tidak boleh ikut berlatih bersama anak yang lain agar dapat menghilangkan pengucapan ‘r betagar’ dalam cara bicaraku. Sebuah hal yang umum bagi orang Kalimantan khususnya Banjar, cadel dalam pengucapan. Aku dan dua saudaraku yang lain mewarisinya dari kedua orang tuaku. Bagi Os itu bisa diatasi. Aku hanya perlu berlatih keras dan lebih keras. Os memformulasikan metode berlatih.

“Coba taruh lidahmu di belakang gigi atas. Coba getarkan. Rasakan ujung-ujung lidah menjadi geli.”

Aku berhasil mengucapkan ‘r’ walau masih  tak sempurna sebelum penampilan kelompok kami pada Munas Pramuka yang dihadiri Wakil Presiden waktu itu. Penampilan yang dinilai luar biasa, hingga aku dan kakakku diculik untuk ikut dalam mobil Gubernur. Peristiwa yang heboh luar biasa. Tapi yang luar biasa adalah kepercayaan diri yang terus terbawa hingga saat ini karena aku berhasil mengatasi ‘kecadelan’ itu.

Os mengajarkan kami ketekunan.

“Lagi ngapain, Os?” Aku bertanya saat melihatnya membuat sketsa pada selembar kertas yang digaris kotak-kotak.

“Mengarsir sketsa ini membantu Os untuk mengasah ketekunan kembali.”

“Kenapa dibuat garis kotak-kotak, Om?”

“Om tahu tidak berbakat menggambar, tapi itu tidak lantas membuat Om tidak bisa menggambar. Kotak-kotak ini membantu Os untuk memposisikan garis dengan lebih tepat.”

Os mengajarkan kami menikmati proses. Bagaimana serunya mempersiapkan masakan telur dadar dan masakan mie instan, bagaimana asyiknya menikmati buah kuini dengan metode mengupasnya. Momen itu selalu kami.

Os mengajar dengan bagian dari metode quantum teaching. Pemberian rewards. Hadiah untuk keberhasilan kami meningkat, mulai dari sekotak minuman jus buah, sebatang coklat, makan di rumah makan padang, hingga baju dan sepatu. Padahal aku tahu, gajinya dari mengajar teater dan menulis tak seberapa, tapi tetap saja disisihkan untuk kami.

Os yang menjadi tameng kami.

“Siapa yang membelikan celana jeans itu?” Amarah Abah meledak saat melihat aku dan Ita memakai jeans baru. Abah memang punya disiplin tersendiri soal membeli barang.

“Om Syafril, Bah.” Abah terdiam. Tak lagi berkata-kata.

Os yang menjadi mediator kami kala kebuntuan komunikasi dengan Abah atau Mama atau sebaliknya. Os yang menjadi perukun kami saat bertengkar. Os yang menjadi penasihat kami saat terlanda masalah. Os tempat kami mengadu. Os yang menjadi gantungan kami saat kepergian Abah.

“Buat Abah bahagia dengan prestasi. Nggak perlu air mata lagi.” Itu kata-kata untuk menutup keran air mata kami.

Meski sudah lama tak serumah lagi, Os selalu menyediakan waktu untuk kami. Mengundang kami ke rumahnya, menikmati masakan Tante Wal yang setara masakan restoran. Atau menyisihkan waktu kalau sedang di Pulau Jawa. Di antara kesibukannya tetap mengirimkan rangkaian kata-kata dahsyat melalui BBM atau komen di facebook.

Pasti banyak yang ingin memberikan testimoni mengenaimu, Om Syafril. Ratusan murid, teman, keluarga yang berinteraksi dan mendapatkan tebaran manfaat darimu. Manfaat yang diberikan pada kami sejak usia muda yang terbawa hingga nanti usia senja.

…..”STN sangat tidak pelit untuk langsung menerapkan pola didik ‘sarat gizi’ yang diterimanya dari keluarga demokratis dan Madrasah Muallimin, pada ratusan anak didik teaternya. Pola didik dalam terminologi pengetahuan modern beristilah ‘hypnoparenting’ dan hypnpteaching, ternyata telah diterapkan sejak dulu. Sebuah pengajaran totalitas terhadap penghayatan berkesenian, bahwa kesenian (teater) bukan aktivitas sekuler dari kehidupan nyata, bukan sekedar ‘aktivitas berpura-pura memainkan peran’, melainkan sensitivitas nurani untuk peduli pada lingkungan….”. Itu sebagian dari testimoniku pada buku Rimba Kaban karyanya.

Untukku pribadi, inilah satu pesannya yang tertanam dalam hati.

“Menulislah, Nat. Itu juga pesan Abah yang disampaikan kepada Os.”

Selamat ulang tahun Om Syafril Teha Noer, insan penebar manfaat. Doa dan cinta yang tak putus untukmu.

NB : Menulis tentang dirinya, sukses membuatku membuka keran air mata.

Malaikat ASI

Published April 9, 2013 by natayacr

Optimis..Optimis dan optimis. Permasalahan laktasi tidak akan membuatku menangis Bombay lagi seperti zamannya Maisha. Beberapa bullet yang membuatku pantas optimis adalah aku menghadapi persalinan jauh lebih tenang, aku mempersiapkan diri menyambut keluarnya kolostrum tidak terburu-buru, aku sudah mengetahui teori latch on (pelekatan), aku sudah merasakan seperti apa latch on yang benar. Intinya aku sudah merasa berpengalaman masalah per-ASI-an.

Kolostrum pertama keluar di hari kedua persalinan. Karena aku sudah merasa lebih percaya diri, Baby Narissa juga jadi lebih pintar menyusu. Setelah inisiasi dini yang prosesnya jauh lebih baik, karena aku lebih terjaga dari kantuk, Narissa juga langsung berhasil menyusu pada kesempatan pertama roomin-in.

Jadi…Tentu tidak akan ada masalah lagi dengan proses menyusui. Percaya diri adalah modal utama keberhasilan laktasi. Beberapa vitamin ASI yang diberikan SpOG jadi tidak aku minum secara rutin. ASI-ku cukup, rasaku.

Bulan pertama kami lalui dengan sempurna. Bahkan ASI-ku sampai keluar seperti air mancur, tak perlu sedotan bertenaga untuk mengeluarkannya. Narissa juga sukses pipis dan pup tak lama setelah menghabiskan santapannya. Pertambahan berat badan Narissa melesat, melampaui standar 400 gram per minggu. Pipinya menggembul menantang untuk digigit sayang.

Lalu mulailah masa itu. Air mataku tumpah lagi karena masalah ASI. Memasuki bulan kedua, Narissa lebih sering menangis. Masa tidur tenangnya memendek. Tangis Narissa selalu membelah malam. Baru saja disusui Narissa seperti menagih kembali, dan mengamuk karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Aku jadi bertanya, “Kurangkah ASIku, sehingga ia tetap seperti kelaparan”.

Aku coba memeriksa persediaan ASI dengan  memerah. Kortisolku serasa meningkat. Pantat botol pun tak dapat basah. Hanya ada sedikit basahan ASI di tangan. Nafas panjang kutarik.

“Tenang…Tenang…ASI-mu cukup. Bukankah terbukti di bulan pertama, Narissa tak pernah kekurangan.” Aku menyemangati diriku sendiri.

Aku coba lagi di lain kali. Tetap sama. Botol ASIP itu tetap tak basah. Narissa tetap mengamuk dengan tangisnya dan akhirnya tertidur karena lelahnya.

“Allah, cukupkan ASIku. Aku ingin memberikan sesuatu yang eksklusif untuk makhluk mungil-Mu ini.”

Aku berharap keajaiban. Ductus-ductus yang langsung terisi penuh ASI. Tangis Narissa yang segera terhenti karena kenyang. Tapi itu tidak terjadi. Percaya diri terjun bebas dengan kecepatan supersonik hingga ke dasar. ASI-ku kering. ASI-ku berhenti berproduksi. Narissa seperti kelaparan.

Diantara tangis hebat Narissa, aku juga banjir air mata.

“Maafkan Ummi, Narissa. Maafkan Ummi.”

Episode sedih karena masalah laktasi tak pernah kuharap terjadi lagi. Kenapa terjadi lagi? Aku ibu yang sangat jauh dari sempurna. Selalu terperangkap pada air mata. Aku membenci diriku sendiri. Menyusui adalah fitrah bagi seorang Ibu, tapi kenapa terkendala untukku?

Waktu aku habiskan dengan konsultasi sana sini. Semua vitamin ASI yang semula tak rutin aku minum, rasanya ingin aku konsumsi melebihi dosis. Aku tambahkan dengan berbagai booster ASI. Aku makan hingga tak sempat merasa lapar. Aku minum hingga tak sempat merasa dahaga. Aku tak ingin merasakan malam, saat Narissa mulai menangis hebat karena lapar yang tak terpuaskan.

Sekaleng sufor akhirnya aku buka. Dengan rasa patah hati luar biasa. Tapi itu lebih penting daripada Narissa tak tercukupi nutrisinya. Narissa menolak. Sufor itu dia sembur-sembur. Mililiternya hampir tak berkurang.

“Allah, maafkan dosa-dosaku. Ijinkan aku menyusuinya, ijinkan aku merasakan indahnya menyusuinya.”

Kalaulah air mata ini bisa berubah menjadi regukan ASI, aku tak akan menangis. Akan aku berikan semua persediaan air mata. Kalau saja bisa…

“Allah berikan pertolongan-Mu. Tolong aku.”

ASI-ku tak bertambah banyak. Aku pasrah.

“Abi, maafkan Ummi jika mempunyai kesalahan. Doakan Ummi dapat menyusui dengan baik.”

“Mama, maafkan Nataya. Maafkan. Doakan agar Nataya bisa menyusui dengan baik.” Aku memeluk Mama yang sedang menggendong menenangkan Narissa.

Aku harus mendapat ridha suami dan orang tua.

Tanganku bergerak melihat kontak di HP. Terhenti pada nama itu. Ya, dia. Dia yang juga menyelamatkanku dari keterpurukan ‘gagal menyusui’ 2 tahun lebih yang lalu. Tips darinya yang membuatku mengerti secara teknis proses latch-on yang benar.

“Halo Mbak…?”

“Siapa ya? Dari mana mendapatkan nomor telepon saya?”

“Dua tahun yang lalu Mbak menolong saya di antara keputusasaan saya.”

Konsultasi melalui BBM kami awali sebelum saat waktu pertemuan.

“Aku memerah nggak bisa Mbak. Hanya keluar serpih-serpih ASI.”

“Hmmm…coba teknik LDR.”

“Apa itu, Mbak?”

Akhirnya kami bertemu. Dengan sangat baiknya dia mengetuk pintu rumahku. Aku sempat terpana dengan kecantikannya. Yang pasti terbentuk juga karena cantik hatinya. Dia mendengarkan semua pertanyaanku, dengan ilmu yang disampaikan secara terstruktur.

“Jangan menunggu PD kencang, karena itu artinya akan ada sinyal yang disampaikan ke otak produksi ASI berlebihan. Produksi setelah itu akan berkurang. Coba pumping secara regular.”

Uuuh, kesalahan besar yang aku lakukan di bulan pertama. Ternyata ilmu laktasi yang aku dapatkan selama anak pertama, masih jauh dari cukup.

“Makan banyak, minum banyak tidak akan menambah produksi ASI selama Ibu merasa tidak nyaman. Oksitosin tidak akan diproduksi. Makan yang cukup.”

Wooooow, kesalahan yang aku lakukan lagi. Tidak sempat merasakan lapar maupun dahaga memang sangat membuatku tidak nyaman.

“Teknik memerah yang benar seperti ini. Jari-jari membentuk huruf C. Pabrik ASI berada di sekitar aerola. Memerah yang benar tidak menimbulkan bekas dan tidak menimbulkan sakit”.

Aku memandangi bekas-bekas memar akibat pumping.

“Ada masa Growth Spurts. Pada masa ini bayi seperti tidak pernah kenyang. Hampir tiap jam minta menyusu. Ini mekanisme untuk memberitahu sang ibu, bahwa kebutuhan bayi ke depan akan meningkat.”

Naaaaaah, itu rupanya yang terjadi pada Narissa. Tangis-tangisnya selama ini justru ingin membantu produksi ASIku ke depan.

“Jumlah ASIP tidak menunjukkan banyaknya produksi ASI yang sesungguhnya. Karena ditentukan kepandaian memerah. Tidak ada yang mengalahkan stimulasi isapan bayi untuk mengeluarkan ASI.”

Ooooh…satu lagi kesalahanku, keburu beban mental saat melihat botol ASIP tak terisi penuh, padahal sudah bergantian diperah dengan tangan maupun pompa ASI.

Dengan sabar dan santai dia mengijinkanku melihat buku panduan sukses menyusui yang dibawanya. Beberapa ilmu dan istilah baru aku temukan, teknik Marmet, posisi menyusui, teknik memerah, dan membangkitkan oksitosin. Kenyamananku dan bayi adalah faktor yang selama ini agak aku abaikan. Aku terjebak dalam hitungan-hitungan kuantitatif. Menyusui harus tiga jam sekali, setiap menyusui paling tidak setiap 20 menit, itu membuatku stress memandang jam. On demand harusnya begitu, dan setiap bayi dengan gaya menyusunya sendiri. Tentu ada indikator keberhasilan menyusui secara kuantitatif yang dapat digunakan yaitu pertambahan berat badan bayi dan frekuensi pipis.

Menyusui seringkali dipandang sebuah hal yang alami sehingga tidak perlu dipelajari. Tapi ternyata banyak orang seperti aku yang minim ilmu laktasi dan kemudian menyerahkan asupan gizi pada kaleng-kaleng sufor.

“Jihadmu pada perjuanganmu untuk dapat memberikan ASI. Berjuang, Nat. Setelah berjuang akan terasa indahnya keberhasilan.” Rangkaian BBM seorang teman kutanamkan dalam pikiran.

Keajaiban Allah berikan dengan menggerakkan tanganku menekan no HP nya, Sang Malaikat ASI. Keajaiban itu terjadi dengan proses belajar dengan sang Malaikat.  Mbak Kiki nama malaikat kiriman itu. Working Mom energik sarat ilmu dan kebaikan. Yang mau mengorbankan waktu weekend nya untuk home visit mengunjungi ibu super panik dan mellow ini. Active listener yang sabar mendengar tak terstrukturnya pertanyaan-pertanyaanku. Perempuan well-groomed  yang mempunyai passion besar pada dunia laktasi. Konselor laktasi tersertifikasi yang sekali lagi membumbungkan percaya diriku. Rasanya dia booster ASI yang sangat mujarab.

Makasih Mbak cantik. Semoga tercatat untukmu pahala pada setiap tegukan ASI dari Narissa. Love you

Image

[Repost] My Maisha-Sang Quality Controller

Published April 9, 2013 by natayacr

Pssst..Beliau sudah datang..Apa yang belum beres? Cepat bereskan Sang Quality Controller akan bekerja. Menjalankan tugasnya Pertanyaan yang sering dilontarkan”Sudah …. kah….?”Titik diantara sudah dan kah itu bisa diisi dengan minum susu,minum obat,olesin salep,obatin Maisha dan lain-lain. Dantitik-titik setelah kah itu berisi satu nama panggilan, Mi,kependekan dari Ummi. Jadi contoh kalimat tanya lengkap itu adalah”Sudah minum obat kah Mi?” Bentuk cinta dari lelaki yang mendampingiku setelah kami berjanji di hadapan Allah ini adalah menjelmakan dirinyamenjadi Quality Controller.Sudah dimulai semenjak Maisha belum hadir,bahkan sebelum embrio Maisha.Lelaki yang hampir tidakpernah absen mengantarku ke dokter untuk terapi kehamilan.Memperhatikan setiap obat yang diberikan. Bertanya (sangat)detail mengenai setiap step pengobatan yang diberikan. Lalu di rumah selalu mengingatkanku untuk meneguk komposisi-komposisi zat yang dipercaya akan mengantarkan kami menerima amanah dari-Nya. Lelaki itu pada saat awal kehamilan masih aku sapa dengan sebutan Daddy..Tentu dia menyapaku Mommy..Beliau suamiku. Kontrol dari Daddy juga menyangkut aktivitasku..Effort yang luar biasa untuk mendapatkan Maisha membuat Daddy sangat super hati-hati mengijinkan aktivitas yang kulakukan. Sebaliknya, entah kenapa di kehamilan pertama ini aku sangat merasa tidak apa-apa. Sehat, hampir tanpa masalah sampai menjelang minggu akhir kehamilan. Menyetir sendiri ke tempat kerja hingga 8 bulan lewat..Daddy merasa aku sedang berjudi dengan aktivitasku.Dan aku merasa kehamilanku terdukung secara psikologis dengan aktivitasku.Pffhhh,menemukan kesepakatan memang salah satu ujian dalam kehamilan. Daddy akhirnya menerapkan sistem layangan, suatu saat mengulur ijinnya, lalu kali lain menarik dengan tegas. Konsep sami’na wato’na bagi seorang istri. Dua bulan menjelang akhir kehamilan, kami sepakat mengganti panggilan. Tidak adanya tampang blasteran dan Bahasa Inggris yang belum mencapai nilai TOEFL tinggi membuat kami merasa tidak pantas dengan sebutan lama..he..he..he.. Dipilihlah Abi dan Ummi. Sebuah pilihan yang menyiratkan adanya tuntutan lebih baik dari sisi akhlak dan ibadah. Perasaanku yang mengatakan. Aku sendiri tidak pernah bertanya alasan pemilihan panggilan itu. Abi semakin berdedikasi dengan tugasnya.Pertanyaan yang sering terlontar kala itu adalah”Sudah minum susu hamil kah Mi?”Abi yang menyodoriku segelas susu hamil pada pagi hari dan sebelum tidur. Sayang perutku tak bersahabat dengan susu, lactose intolerance.”Sudah makan sayur katuk kah Mi?”Abi sangat rajin mencari tahu hal-hal yang baik pada kehamilan dari pengalaman teman-temannya.”Harus makan katuk sejak hamil Mi, supaya air susunya nanti lancar.Teman Abi bilang seperti itu.” Abi sangat mendukung keinginanku untuk melahirkan normal dengan waterbirth. Abi meng-iyakan usulanku untuk pindah dokter dan rumah sakit.Abi yang sangat pro normal. Tetapi ketika dijelaskan oleh dokter bahwa aku terkena preeklamsi, Abi yang memutuskan dengan tegas untuk memilih opsi sectio, tanpa harus melalui coba-coba induksi. Abi yang menguatkan hatinya untuk mendampingiku di dalam ruang operasi. Menyaksikan proses selapis demi selapis bagian perut disayat dan dibuka.Abi mengabadikan dengan video. Dan Abi bertahan..Ia tidak pingsan..Kelak Abi bercerita bahwa jantungnya sangat kencang berdegup kala itu.Tapi Abi berhasil tidak memperlihatkan gemeretek lututnya untuk membuatku tenang menghadapi operasi.”Sebentar lagi Ummi akan menjadi Ibu yang sesungguhnya,”kata Abi meredakan ketakutanku. Aku tak tahu adakah air mata haru Abi pada saat Maisha ditarik dari perutku, atau adakah air matanya saat mengadzankan Maisha. Tak pernah diceritakan kepadaku. Tetapi lewat Mama mertua terlontar kisah Abi yang bertanya dengan terbata-bata”Ma, benar ya, aku sudah punya anak? Aku nggak mimpi kan?”Cerita itu sudah mewakili keharuan tingkat tinggi yang tak aku saksikan.Mama mertua juga bercerita bahwa sesudah operasi itu, Abi menyungkurkan diri, meminta maaf dengan takzim kepada Mama,membasahi matanya,untuk sebuah proses luar biasa yang baru saja disaksikannya. Menjadi ibu adalah perjuangan. Paska operasi, Abi yang rajin mengganti perban dan mengoleskan salep pada jahitan luka. Sebelum bekerja Abi akan memperhatikan lebih dulu keadaan jahitan. suatu hari di ruang praktek SPOG pada pemeriksaan jahitan yang kedua, Abi yang menanyakan kepada SPOG akan kerapian jahitan pada luka operasi.”Dokter, ini bagian kanan kenapa tidak sama rata permukaan jahitannya?””Ooo, ini nggak apa-apa Pak, nanti jaringan kulitnya akan tumbuh lagi dan menutup.””Iya, Dok. Tapi nggak apa-apa tidak sama rata begini. Kalau sebelah kiri lebih rapi.””Wah kalau mau dijahit ulang, harus dibuka lagi Pak.”Sontak aku berteriak sambil menggigil,”TIDAAAAK.””Tapi tidak apa-apa ya,Dok?”tanya Abi memastikan.Kelak aku menyadari bahwa bagian yang dibilang tidak rata itu menutup tidak serapi bagian lain. Ya sudahlah, daripada harus dijahit ulang..Two thumbs untuk ketelitian Abi. Tentu ketika Maisha hadir, item pemeriksaan bertambah.”Sudah dibedong kah,Mi?”Pertanyaan pemeriksaan juga bertambah.”Kenapa tidak dikelambuin, Mi?””Kenapa tidak dijilat,Mi?””Kenapa tidak pake sarung tangan, Mi?”Saat Maisha terkena alergi sebuah merk babyoil yang menyebabkan sekujur badan terutama wajah berbintil-bintil, Abi dengan sigap mencari obatnya.”Ummi baca, kalau alergi dan biang keringat pake bedak tabuk dari Dokter X yang hanya tersedia di apotik RS Y, Bi.”Pulang kantor, dengan jarak yang terhitung lumayan jauh, Abi menyempatkan membeli bedak itu.Demi mengurangi gatal dan perih pada wajah Maisha, Abi rajin mengoleskan bedak.Lumayan tebal. Karena Ummi dan Nenda juga rajin, jadilah overdosis bedak pada wajah Maisha.Wajah Maisha menjadi kisut-kisut karena Abi, Ummi dan Nenda tidak saling konfirmasi sesudah mengoleskan bedak. Selama alergi belum sembuh dan mungkin terasa gatal untuk Maisha, Abi yang rajin menghitung bekas-bekas garukan baru pada wajah Maisha.”Ummi, ini luka lagi di hidung dan kening.”Suatu ketika,pada saat yang tidak kuketahui, Abi sudah memasang sarung kaki pada tangan Maisha.Tindakan kreatif atas jawabanku.”Kalau dipasang sarung tangan lepas terus,Bi.” Sebulan pasca lahiran Abi yang ngotot mengajakku untuk ke salon.”Ummi creambath aja,facial sekalian.Biar Ummi merasa lebih segar.”Abi dan Nenda menunggu di ruang tunggu salon,sambil bahu membahu menenangkan Maisha.Abi yang memberikan hakku akan me time-ku. Ya, perhatian yang tak berkurang, meski Maisha telah hadir.Terakhirkan yang akan aku ceritakan adalah salah satu item pemeriksaannya juga. “Mi,kayaknya perut Ummi balapan deh sama perut Abi.”Gurauan itu dilontarkan setelah pengamatannya akan korset yang sudah sering aku tanggalkan. Naluri quality controller Abi begitu kentalnya. Dan dengan itulah Abi menyampaikan cintanya. to be continued “Perginya Jin Itu”

1 Maret 2011Image

[Repost]My Maisha-Kenalkan, Namaku Maisha

Published April 9, 2013 by natayacr

Dunia yang mendadak terang benderangRasa dingin yang menyergapAku yang terusik dari rasa nyamanBeranjak dari kamarku yang gelap Narissara..Sebuah nama yang indah..Memiliki arti perempuan cerdas..Perempuan yang membawaku selama 38 minggu 2 hari, Ummiku, yang menyiapkan nama itu untukku..Banyak nama lain dengan arti yang serupa, tapi Narissara memikat hatinya..Nama itu adalah nama Thailand, dan Ummi juga bernama Thailand.Ayah Ummi,Kai-ku memberikan nama yang unik dan tak biasa pada anak-anak perempuannya.Dan itu adalah salah satu hal indah yang dikenang Ummi dan Auntie Ita, adik perempuan Ummi, tentang Kai..Ummi ingin mengenang Kai lewat nama ini.. Jadi..nama lengkapku adalah Rumaisha Rizkana Prasetio..Loh, kemana nama Narissara pergi? Memberi nama adalah proses negosiasi antara Abi dan Ummi..Mereka sama-sama ingin punya andil dalam proses pemberian nama. Mereka ingin sama-sama mengalirkan doa, membangun harapan dan mengabadikan dalam nama yang diberikan. Ummi juga memilihkan nama Rumaisha. Nama seorang wanita mulia di zaman Rasulullah SAW, yang berwajah manis, cerdas, mempunyai sifat yang dewasa, berakhlak mulia,dan tidak segan merelakan anak-anaknya berjuang untuk Allah. Wow, doa dan harapan yang terakomodasi dalam satu nama.Sementara Abi menyiapkan nama Rizkana, singkatan dari ‘rizki Agung dan Nataya’..Hadirku adalah sebuah rizki dan keajaiban untuk mereka..Di saat mereka sudah berpikir untuk bersiap memperoleh keturunan lewat IVM (in Vitro maturation) atau bayi tabung, Allah mengirimkan aku sebagai rizki untuk mereka..Prasetio adalah bagian dari nama Abi..Selain mengukuhkan aku adalah anaknya, juga untuk mengingatkan sebagai anak perempuan, Abi akan diminta pertanggungjawaban atas diriku.. Pertanyaan masih belum terjawab,kenapa nama Narissara tidak menjadi bagian namaku..Selain Abi merasa kasihan kalau aku harus memerlukan waktu lama untuk mengisi nama pada formulir SNMPTN, ketika membuat surat keterangan lahir sebagai persyaratan membuat akte kelahiran, nama dibatasi hanya 30 karakter. Rumaisha Rizkana Narissara Prasetio berjumlah 32. Menyingkat , Rumaisha Rizkana N. Prasetio tidak mungkin, karena di akte juga akan dicantumkan singkatan. Ummi akhirnya menerima, ini adalah proses negosiasi. Toh arti Narissara sudah ada dalam nama Rumaisha dan Ummi memilih mengenang Kai lewatku dengan cara lain.. Inilah aku, Rumaisha Rizkana Prasetio. Lahir tanggal 22 November 2010, pukul 06.30, di RS Bunda Menteng.Hmmm, kalau berbicara ukuran,saat lahir, berat 2,56 kg, panjang 47 cm, lingkar kepala 34 cm, lingkar perut 32 cm. APGAR score pada menit pertama 9 dan lima menit kemudian 10.Terus terang, aku terusik. Menemukan dunia yang benderang,lampu bulat yang begitu terang..Menemukan dunia yang begitu dingin, bersuhu di bawah 20 derajat celcius.Aku yang sendiri..Aku yang menangis begitu kencangnya sesaat setelah lahir.. Lalu aku menemui ummiku yang juga menangis..Terus menangis..Hampir tiga minggu lamanya..Katanya bagian dari babyblues..Tak tahukah ummi aku juga terkena mother blues, father blues dan orang-orang blues..Ummi hanya cukup berkenalan denganku, sementara aku harus berkenalan dan beradaptasi dengan banyak orang.. Aku harus berjuang untuk makan. Suplai makanan otomatis itu sudah terhenti. Aku juga harus berjuang untuk bernafas. Selang bernafas yang menyambung ke perutku itu telah terpotong, tali pusar dan plasentaku telah terkubur di dalam tanah, di halaman depan rumah. Aku harus melatih kemampuan mengisap, agar ASI bisa kusesap. Aku harus melatih otot-otot dadaku,memperbesar kapasitas paruku. Aku yang awalnya hanya punya satu senjata komunikasi yaitu tangisan untuk menyatakan banyak maksud, lapar, ingin ganti popok, tidak nyaman, butuh pelukan,ngantuk..Karena di awal tangisanku hanya semacam, ummiku sering salah memahami. Saat aku sebenarnya hanya mengantuk dan ingin digendong, ummi terus menyodori ASInya. Aku ingin bilang,”Aku sudah kenyang Ummi.”Tapi ummi terlambat mengerti. Lambungku over capacity,aku muntah dan aku marah, kantukku musnah. Tak tahukah Ummi, badanku yang pegal-pegal karena Ummi dan Abi dan orang-orang lain kurang tepat dalam menghandle-ku. Gendongan yang tak selalu nyaman. Memang Ummi memijatku setiappagi, tapi dia bukan pemijat profesional. Tak tahukah Ummi, aku yang harus menghadapi perubahan altitude yang tiba-tiba kalau aku diangkat dan akan digendong. Perubahan dalam cara yang vertikal, bukan diagonal. Hai, orang-orang dewasa, bagaimana kalau anda menaiki pesawat yang turun tiba-tiba?Jantung serasa ingin terlepas kan. Untunglah Al-Mushowwir, yang Maha Pembentuk Makhluk, sudah merancang sempurna, indra pengatur ketinggian dirancang khusus untuktidak membuatku serasa turun mendadak dari ketinggian. Tapi yang paling membuatku berpikir keras,dan kadang menangis dalam tidurku adalah aku yang berjalan menujupertanggungjawaban. Aku yang sudah menjawab ‘Qolu bala sahidna’ atas pertanyaan-Nya ‘Alastu birobbikum’. Aku yang sudah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhanku ketika di dalam rahim, ketika Ia bertanya “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Argo pertanggungjawaban akan dimulai sesaat setelah haid pertamaku. Masih lama mungkin, tapi masa itu dibentuk dari masa sekarang. Apakah Abi dan Ummi akan cukup membekaliku menghadapi masa itu?Memadaikah setiap fase dari 7 fase perkembangan psikologi yang dipersiapkan untukku. Fase pertama,sebelum lahir sudah kulewati. Sekarang aku berada pada fase kedua,fase menyusu.Lima fase yang akan kujelang fase anak-anak, fase puberitas, fase pra dewasa, fase dewasa dan fase lanjut usia. Memadaikah? Allah Maha Penggembira..Dialah yang menciptakan tawa. Itu isyarat hidup harus dijalani dengan gembira, dengan bahagia. Ummi sudah mulai tertawa-tawa. Aku monyong, aku mangap, aku mencibir, aku mengerling, aku tertawa, aku tersenyum, semua ekspresi membuatnya bahagia. Bahkan tangisku tak lagi selalu membuatnya tergopoh-gopoh, ia tertawa. Kalau Abi memang dari awal banyak tawa. Ia abi yang jahil. Ia yang kadang amnesia, bertanya aku anak siapa. Ia yang suka usil, menyembunyikan kedua tanganku dalam celana yang kupakai. Aku harus berjuang mengeluarkannya. Tapi aku tahu cara membalas kejahilan abi, kujerengkan saja mataku, abi akan panik menjerit-jerit. Satu sama.Dalam keadaan setengah tidur, lamat-lamat kudengar ummi menyenandungkan lagu bangun tidur yang dimodifikasi.Bangun tidur Maisha nyusuTidak lupa sambil baca bukuHabis nyusu Maisha mandiHabis mandi eh nyusu lagi.. Catatan di Lauhul mahfuz telah terbuka. Aku terutus untuk dua insan,Abi dan Ummiku. to be continued “Sang Quality Controller” Depok, pagi hari….

2 Februari 2011Image

[Repost] My Maisha-Maisha, Bayi Yang Menari

Published April 9, 2013 by natayacr

Terperangkap aku dalam gemulai gerakan jarimu
Pada kerling mesramu

Terjerat aku dalam tepisan tanganmu
Pada tarikan sudut bibirmu

Tertambat aku pada goyangan kepalamu
Pada kekeh gelimu

Terpesona aku pada tolehmu
Pada semua ke-pelanan-mu

Dunia yang diatur pada setting slow motion selalu..

Tarian itu..Senantiasa hadir..Maisha menyuguhkan setelah sejumlah tegukan ASI ia dapatkan.Setelah foremilk dan hindmilk sempurna ia cecap. Maka ia akan menari.Matanya yang setengah terpejam,memulai gerakan bak gemulai tarian jawa..neng tak neng dung neng tak neng dung,serasa terputar gending Jawa..Pelan,gemulai,jemarinya mulai melentik bergerak..Tangannya,bergerak,juga gemulai..Juga pelan..Lalu ia tersenyum,kadang juga terkekeh..Penuh kegelian tetap dengan mata yang pejam..Kepalanya menggeleng..Juga pelan..

Menatapnya,membuatku terhanyut..Tanpa sadar aku juga menggerakkan kepala mengikuti gerakan kepalanya..Juga pelan..Dengan nafas yang tertahan..Mencegah terinterupsi indahnya tarian..Aku rekam baik baik momen ini agar tak terlupakan..Maisha yang berada dalam rengkuhan tangan..

Setelah matanya sempurna terpejam,pelan kutaruh Maisha dalam peraduan..Kembali Maisha menyajikan pertunjukkan berikutnya..Maisha menari..Ia sang bayi yang menari..Pada pertunjukkan keduanya,ia akan menari hip hop..Gerakan yang patah-patah, lebih dinamis dibanding sesi pertama..Jacko yang serasa hadir..Tangannya terkepal..Sepenuh tenaga terayun ke atas dan ke samping..Kadang membuatnya terkejut..Membangunkan dirinya sendiri disertai nafas yang memburu..Kemudian mereda..Dan mulai lagi dengan rangkaian hip hop lainnya..Kadang dengan tawa,aku membiarkannya sesekali melakukan gerakan slapstick..Tangannya terayun mengena wajahnya sendiri..Ia yang memiliki tenaga,tapi belum mampu mengendalikannya..Jemarinya yang terampil bergerak mendaratkan garukan kuku yang berbekas tipis pada wajahnya..

Dan,ketika kesadaran frekuensi gelombang 4-12 hz akan berakhir,ketika tetha dan delta siap berganti betha,Maisha akan menyajikan tarian capoeira..Kakinya akan menendang kuat..Cukup kuat untuk menggeser posisi badanku..Pijakannya berbekas,tentu pada hatiku..Kemudian akan pecah tangisnya,yang tak lagi semacam jenisnya..neh-neh, eh-eh,aaakak,enggaak,ummmi..sepertinya itulah verbalisasinya..

Bayi yang menari itu kemudian terbangun..Kerjap-kerjap matanya,mengingatkanku pada amanah yang telah turun..Aku yang harus berjalan dengan langkah yang lebih tersusun..

*Menjelang dua bulan Maisha,ketika tahap perkembangannya menurut Jean Piaget memasuki tahap reflexive action dengan aksi motorik sederhana dan tahap primary circular reactions dengan laku gerakan berulang ulang..Ia yang mulai peduli pada lingkungan..

To be continued “Kenalkan,Namaku Maisha”

Menatap Maisha yang tertidur dengan topi kelinci..:)

13 Januari 2011Image